masa kecilku

MASA KECILKU

Aku terlahir dari keluarga sederhana, di mana ayahku, Hamzah, berasal dari suku Bugis yang teguh memegang adat, dan ibuku, Rosida, berasal dari suku Batak Tapanuli Selatan, yang dikenal kuat dan penuh semangat. Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, hidupku dipenuhi dengan canda dan tawa masa kecil.

Dulu, dunia yang kukenal hanyalah bermain dan bersenang-senang. Kehidupan berjalan tanpa aku memahami apa-apa, hanya ada kebahagiaan sederhana seorang anak kecil yang tumbuh di tengah cinta keluarga. Namun, saat itu, aku belum tahu bahwa hidup memiliki caranya sendiri untuk memberikan kejutan yang tak terduga.


Masa Kecil: Dunia yang Penuh Warna

Masa kecilku dipenuhi kegembiraan sederhana. Aku sangat suka menggambar. Dunia di mataku seolah penuh warna, dan imajinasiku terus bermain melalui coretan-coretan pensil di atas kertas.

Saat ibuku mendaftarkanku di TK Aqila Zahra—yang berlokasi di tempat nenek sepupu nenekku—aku merasa senang sekaligus cemas. Di sana, aku mengalami masa-masa sulit belajar membaca. Huruf-huruf tampak seperti teka-teki yang sulit dipecahkan, hingga aku sering merasa menjadi anak paling bodoh di kelas. Meski begitu, aku tidak menyerah. Aku mengulang dari Z ke A dan A ke Z, berharap suatu saat semua itu akan terasa lebih mudah.

Selain belajar, aku juga bermain bersama teman-temanku. Salah satu teman yang paling kuingat adalah seorang anak laki-laki bernama Naim. Aku begitu menyukainya hingga menceritakan tentang dia kepada kakakku saat pulang sekolah. Rasanya lucu dan menggemaskan saat mengenang itu.

Di TK, aku juga belajar hal-hal praktis, seperti menyikat gigi yang benar. Guru-guru kami begitu sabar, menjadikan setiap pelajaran sebagai pengalaman menyenangkan. Masa itu adalah awal mula perjalanan hidupku, meski belum sepenuhnya kusadari apa arti belajar dan berusaha.


Bab 2: Awal Perjalanan di Sekolah Dasar

Setelah menyelesaikan masa TK, aku melanjutkan sekolah di SDN 003 Pelintung. Awalnya, aku merasa takut. Dunia SD terasa begitu asing, tetapi aku tahu bahwa tujuanku adalah untuk belajar. Setelah menyiapkan berbagai berkas seperti foto, kartu keluarga, dan akta kelahiran, aku akhirnya resmi terdaftar sebagai murid.

Hari pertama sekolah penuh dengan kejutan. Karena bangku yang tersedia tidak mencukupi, aku harus duduk di barisan paling belakang. Saat itu, ada pembagian kelas, dan aku berharap bisa berada satu kelas dengan sepupuku. Namun, kenyataan berkata lain; kami ditempatkan di kelas yang berbeda.

Ketika mencapai kelas 5, hidupku berubah menjadi lebih dinamis. Aku mulai membantu ibuku berjualan makanan seperti telur gulung, sosis, dan minuman pop ice. Ibuku berjualan secara berpindah-pindah—di pasar, di depan toko, bahkan di acara pesta. Aku sering membantu, terkadang bersama kakakku, Khadijah.

Namun, sebuah insiden tak terduga terjadi. Saat sedang berjualan, aku secara tidak sengaja menumpahkan minyak panas ke kakiku. Luka bakar itu sangat menyakitkan, membuat kakiku melepuh. Aku tidak bisa bersekolah selama sekitar satu minggu. Ketika kembali, aku harus digendong karena kakiku masih terasa sakit. Meski akhirnya sembuh, bekas luka itu tetap ada, menjadi pengingat akan kejadian tersebut.

Setelah peristiwa itu, aku merasa mulai kehilangan arah. Ada sesuatu yang berubah dalam diriku, sesuatu yang membawaku ke perjalanan yang lebih sulit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bulan ramadhan 🌝

pantun menarik

The Best Parents